Jangan mudah justifikasi, pesan untuk pendengki dan nasehat untuk mengapresiasi. !

Jangan mudah justifikasi, pesan untuk pendengki dan nasehat untuk mengapresiasi. !

smph2

Setiap orang memang berhak memberikan ekspresi apapun terhadap perasaan dan kondisinya. Facebook, Twitter atau semua sosial media lain mungkin menjadi satu-satunya alasan bagi mereka bangun tidur lebih awal atau mengecek HP sekedar melihat notifikasi jumlah like, komen, atau respon orang-orang terhadap status dari ‘perasaan/kondisi’ nya tersebut. Beberapa orang yang saya kenal sangat pendiam dan tidak pandai bergaul terlihat meriah sekali hidupnya di Facebook atau Twitter. Mungkin karena merasa `memiliki identitas` berbeda dibandingkan kehidupan sebenarnya. Itu urusan mereka, seharusnya memang benar-benar urusan mereka.

Ada salah satu kenalan saya di Facebook yang selalu update status tentang kesedihanya menjadi tunanetra. Semua statusnya adalah kepedihan, keputus-asaan, ketidakampuannya mencari jodoh, keraguannya apakah nanti bisa menikah seperti kebanyakan orang, keinginannya memiliki sesuatu, kondisinya saat sakit dan tidak ada yang perduli, dan semua hal ‘sial’ lainnya. Beberapa saat awalnya saya begitu terganggu melihat status-statusnya, ingin sekali saya unfriend karena jujur saya benar-benar terganggu melihat statusnya. Adalagi salah satu teman saya yang selalu berdebat tentang hal-hal yang menurut saya tdak terlalu penting ditanggapi. Berdebat panjang lebar, diskusi dengan bahan-bahan dan referensi keren yang diambilnya dari internet. Sepertinya memang hidupnya ada disana, di status-status kerennya tentang negara, di perdebatan comment status dari orang lain tentang hal tersebut. Pagi, siang, hingga larut beberapa orang tersebut tidak pernah absen di perdebatan yang sama. Saya tau dan melihat karena biasanya status-status tersebut selalu muncul lagi di home feed news.

Sebenarnya kalimat ‘Itu urusan mereka, seharusnya memang benar-benar urusan mereka’ mendefinisikan pengalaman saya saat saya berpikir untuk memblock akun yang cukup mengganggu tersebut. Hanya kemudian saya berfikir lebih coba mengerti apa yang terjadi. Hidup ini bukan hanya tentang makan dan mati, tapi juga tentang eksistensi. Dan salah satu ciri eksistensi menurut saya adalah perhatian dari orang lain terhadap kondisi ataupun perasaan kita. Orang-orang tersebut hanya butuh like atau comment ringan dari orang lain untuk sedikit merasa lebih baik. Mereka dan semua kesedihannya tidak butuh bantuan kita, hanya butuh perhatian dan respon kita terhadap ke-ada-an mereka. Dan itu sudah sangat cukup bagi mereka. Saya coba membayangkan bagaimana rasanya menjadi tunanetra tersebut. Mungkin dia sudah berusia lebih dari 30 tahun, belum menikah, tidak percaya diri, gaji tidak begitu besar, [maaf] mungkin dengan fisik yang berbeda, tidak punya banyak sahabat dekat, keluarga yang tidak mengerti kondisinya, dan semua hal yang menurut pandangannya adalah ‘nasib’ yang tidak dia inginkan. [mohon maaf jika apa yang saya rasakan berlebihan atau tidak sesuai dengan kondisi yang dialami sebenarnya]. Beberapa orang mungkin akan langsung menyalahkan kondisi dan mental dia karena tidak bersyukur, tidak berjuang, harusnya anda tonton saja Mario Teguh misalnya, atau semua hal lain yang kita ucapkan mungkin karena kita tidak pernah menjadi seperti dia. Kita tidak tahu rasanya merasa ‘tidak sempurna’. Sejenak saya membayangkan jika itu adalah saya. Mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Ber-perasa-an yang sama. Lalu orang-rang yang cukup bahagia hidupnya ‘nyinyir’ saat melihat status-status penderitaan yang dibuat seperti apa yang saya pikirkan pada awalnya. Itu benar-benar tidak adil. Berpikirlah lebih mengerti sebelum menjustifikasi perasaan orang lain !. Mohon maaf tulisan ini tidak sedang menghakimi, saya hanya ingin kita lebih menghargai. Dan mengerti.

Saya hanya ingin mengingatkan diri saya untuk tidak mudah ‘menjustifikasi’ orang lain dengan masalah mereka. Mungkin jika berkenan mengingatkan orang lain yang masih sering menjustifikasi. Bisa jadi justifikasi negatif itu bentuk iri dan dengki kita atas pencapaian mereka. Hati-hati setan begitu lihai mempermainkan perasaan kita. ‘Yaelah itu orang melas banget hidupnya update galau mulu,’ atau ‘yaelah ketauan banget itu kasian pengen nikah tapi belum punya calon update nya walimah-walimah mulu, pasti bosen tu udah kerja lulus belum nikah juga’ , atau ‘yaelah pamer bgt menang lomba nya udah kapan masih aja update-update terus’ dan yaelah –yelah lainya. Bukankah anda pernah mendengar teman atau mungkin orang lain menatakan hal tersebut? ‘Itu urusan mereka, seharusnya memang benar-benar urusan mereka’. Kita seharusnya turut memberikan selamat pada hal baik, dan juga menyemangati pada hal lain yang butuh di semangati atau diperhatikan. Masalah setiap orang pasti berbeda, yang sama seharusnya adalah respon kita menanggapinya. Sampaikan hal baik dan kritik dengan cara baik, apresiasi prestasi. Bukankan anda juga ingin ketika ulang tahun banyak orang yang menulis di wall anda ucapan selamat ulang tahun.

Menjadi lebih mengerti akan lebih menenangkan, mengapresiasi akan lebih menyemangati orang lain. Justifikasi negativ mungkin dibangun diatas kedengkian, ke-iri-an. Ke-ada-an orang lain tidak perlu dirisaukan, kita harusnya bisa lebih bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Kita seharusnya lebih mengerti dan menemani kesendirian orang lain. Orang-orang yang lebih mengerti tidak akan terlalu reaktif. Aa Gym dengan semua akhlaknya menjadi salah satu tokoh inspirasi saya tentang bagaimana lebih mengerti dan menata hati. Bersyukurlah bagi kita yang cukup bahagia, bersyukurlah bagi kita yang memiliki sahabat-sahabat baik disekitar kita, mereka yang menemai kita, yang mengapresiasi kita, yang membantu kita, bagi mereka yang penelitianya lancar, bagi mereka yang saat wisuda mendapatkan banyak bunga dari sahabatnya, bagi mereka yang masih punya banyak orang untuk diajak curhat di Whatsapp-nya, bersyukurlah bagi mereka yang semanagat hidup untuk memperjuangkan sesuatu misalnya dengan ideologinya atau partainya, bersyukurlah bagi mereka yang sudah menikah, bagi mereka yang sudah bekerja, bersyukurlah bagi mereka yang sudah lebih mengerti. !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s