Ikhwan-isasi ? Spirit revolusi ?

ketidakpastian-nasib-ikhwanul-muslimin-selepas-lengsernya-musri-rev-1

Istilah ini saya dapat semalam dari TVone. Pembicara menyebutkan bahwa salah satu alasan banyak tokoh mesir yang mendukung turunnya Mursi adalah maraknya ikhwanisasi. “mereka ideologis tapi tanpa kompromistis” kurang lebih itu salah satu penjelasannya. Tulisan ini tidak bermaksud membahas Mesir pasca kudeta. Saya lebih tertarik membahas ikhwanisasi ini.
Sebatas yang saya pahami, secara sederhana definisi ini diakhiri dengan Afiks /-isasi/. Fungsi afiks ini adalah untuk membentuk kata benda yang memiliki arti proses atau hal yang sangat berhubungan dengan kata dasarnya. Sebagai contoh : organisasi, globalisasi. Kita bisa artikan ikhwan-isasi sebagai proses meng-ikhwan-kan semua hal. Dalam konteks pemerintahan mesir mungkin saja misalnya mereka memulai rapat dengan cara ikhwan, memilih pejabat dengan kriteria ikhwan, memilih staff kerja dengan cara ikhwan, dan semua proses lainnya. Tentunya definisi ikhwan disini spesifik kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang memang bermarkas di Mesir. Anda bisa membaca lebih lanjut mengenai gerakan ini melalui buku ataupun internet.
Tanpa memandang dasar ideologi, sejarah, dan hal fundamental lainnya, saya pikir semua gerakan memiliki tujuan dan visi besar yang membuat mereka tetap bertahan. Gerakan-gerakan berbasis agama biasanya cenderung lebih fanatis sehingga jika anda sedikit saja membaca buku mengenai gerakan anda bisa membedakan darimana atau seperti apa pemikiran seseorang hanya melalui cara berpakain misalnya, status facebook, bahkan cara berbicaranya. Hingga saat ini saya tidak tergabung dalam gerakan manapun meskipun tidak menutup kemungkinan suatu saat saya akan menjadi bagian dari gerakan-gerakan yang berkembang saat ini.

Paternal

Hal yang sama pasti juga terjadi di gerakan ikhwanul muslimin. Ketika gerakan manapun yang menguasai puncak kepemimpinan, hampir dapat dipastikan mereka akan memastikan semua orang disekitar mereka memiliki ideologi yang sama. Hal ini sangat bisa dipahami, karena setiap pemimpin saya kira juga butuh tempat bersandar dalam hal pemikiran dan ideologis untuk tetap membuatnya percaya diri dalam mengambil keputusan. Anda tidak akan dapat membayangkan seberapa besar tekanan yang didapatkan oleh seorang presiden dalam menjalan pemerintahan. Kita bisa lihat misalnya dalam sebuah kelas kecil dulu ketika sekolah, ketua kelas akan memilih wakil ketua kelasnya karena kedekatan mereka sebelumnya. Dia tidak akan memilih orang yang akan menjadi partnernya karena mereka sama sekali tidak bernah berteman atau karena mereka selalu berselisih di kelas. Sangat sederhana. Begitu juga dalam organisasi maupun pemerintahan. saya tidak bermaksud menganalogikan kasus ini sesederhana itu, tapi yang ingin saya sampaikan adalah hal tersebut sangat manusiawi sebesarapaun usia anda. Lalu bagaimana kaitannya dengan ikhwan.

Ikhwanul muslimin adalah sebuah gerakan strategis yang terkenal memiliki proses kaderisasi yang sangat rapih. Gerakan ini sangat solid, terbungkus fatwa, ideologis dan berkembang pesat khususnya dalam kalangan anak muda. “Ideologis tanpa kompromistis” bagi saya menjadi istilah yang sangat baik. Meskipun saya yakin tidak terjadi se-keras itu, tidak terjadi disemua tempat, dan bukan sebuah justifikasi kepada IM secara utuh. Dalam sebuah kerajaan misalnya, ketika raja baru berkuasa apa yang anda kira akan dilakukan sang raja di awal pemerintahannya? Ya, menurut saya dia akan memastikan timnya terbentuk dengan baik sesuai dan memiliki visi yang sama dengan apa yang dimiliki raja. Visi yang sama. Anda tidak mungkin dapat menjadi pengendara yang baik jika roda mobil anda tidak dapat anda arahkan dengan baik bukan?. Tentunya politik tidak sesederhana ini, akan ada banyak sekali hal yang dipertimbangkan dalam sebuah pemerintahan besar. Tekanan dalam negeri, oposisi, asing, bisnis, partai, citra, dan hal lain yang mungkin tidak pernah anda bayangkan. Namun akan menjadi keuntungan sendiri bagi pemimpin tersebut jika anggotanya memiliki visi yang sama. Paling tidak dalam hal-hal ideologis tidak akan ada banyak pertentangan dan mempermudah pekerjaannya. Maka anda akan dapat dengan mudah memahami mengapa ikhwan-isasi terjadi.

Ikhwan-isasi ? oposisi-isasi ?

Setelah saya menyampaikan bahwa berkelompok dengan tim yang memiliki visi yang sama adalah sebuah hal yang sangat wajar, lalu pertanyaanya apakah hal tersebut salah? Pada tahap ini saya kira tidak. Ini adalah proses yang sangat wajar. Kita bisa melihat ini dari dua perspektif. Yang pertama dari sudut pandang ikhwan sendiri, lalu dari oposisi.

Bagi ikhwan :
Saya kira ada semangat yang tidak tertulis yang menyatakan bahwa ikhwan-isasi adalah sebuah revolusi. Artinya ini menjadi semangat perubahan, semangat untuk sesuatu yang harus mereka tuju. Saya mengartikan ini misalnya dengan keyakinan ikhwan bahwa semua posisi strategi harus dikuasasi oleh ikhwan. Akan menjadi sebuah keberhasilan jika walikota, gubernur, hakim, mahkamah agung, dan posisis strategi laiinya kemudian dikuasai oleh ikhwan. Ketika posisi-posisi strategis dikuasai, maka akan lebih mudah tentunya merubah sesuatu yang fundamental dalam organisasi tersebut. Misalnya cara-cara mereka memulai rapat, mengakhirinya, cara berdiskusi, bahkan anda mungkin akan mendengar doa yang sama diakhir semua pertemuan anda. Sekali lagi tanpa menganaisis apakah semua hal yang mereka lakukan itu benar atau tidak. Tulisan ini hanya ingin memperjelas definisi ikhwanisasi. Nah, hal-hal teknis demikian yang kemudian disebut sebagai ideologis non kompromistis oleh oposisi. Ikhwan-isasi memperluas definisinya menjadi semuah hal yang secara tidak tertulis harus dipatuhi oleh ikhwan dan non-ikhwan karena lingkungan ikhwan-isasi yang telah mereka ciptakan. Ini seperti menjadi semangat revolusi. Mereka akan membaut tim-tim kecil teknis yang biasanya dirahasiakan untuk memastikan ikhwan-isasi berjalan. Kesalahan yang sering terjadi adalah sadar atau tidak mereka sendiri yang menciptakan dikotomi ikhwan dan non-ikhwan. Hampir dapat dipastikan hal ini akan mempengaruhi cara berpikir, penerimaan pendapat dari non-ikhwan yang akhirnya membuat ikhwan-isasi menjadi begitu keramat dan harus dipatuhi. Pendapat ini bukan justifikasi karena bisa jadi dalam situasi dimana para ikhwan dan non-ikhwan sudah dewasa dalam berorganisasi mereka akan lebih banyak mencari benang merah dalam proses ikhwan-non-ikhwan-isasi.

Bagi non-ikhwan:
Banyak faktor yang menurut saya membuat seseorang/gerakan memutuskan untuk menjadi oposisi terhadap sesuatu. Beda ideologis, kecemburuan, egois, tidak se-visi, tidak dihargai, dan hal-hal manusiawi lainnya yang sering anda lihat di televisi. Bisa jadi karena salah satu alasan tersebut, maka orang-orang yang menolak ikhwan-isasi ini kemudian menganggap semua proses ikhwan-isai tersebut salah satunya juga berarti proses penyingkir-an mereka dari arena yang ada. Terlebih jika ikhwan merasa gerakan gerakan ini tidak mengerti apa yang anda rahasiakan maka hal ini akan menjadi alasan tambahan mereka membenci ikhwan karena menganggap mereka bodoh dan bukan bagian dari proses yang mereka usahakan. Tahap ini yang paling kritis menurut saya, tahap dimana ikhwan-isasi menjadi sebuah semangat buta karena tidak lagi memperjuangkan nilai yang dibungkus slogan revolusioner itu, tapi lebih kepada fanatisme ikhwan akan gerakannya. Tidak hanya terjadi di kalangan ikhwan, lebih parah lagi pihak oposisi juga bukan lagi menentang karena nilai atau ideologi, tapi menentang apapun yang bernuansa ikhwan karena ikhwan-isasi yang menjadi begitu ekslusif bagi mereka.

Solusi ?
Tulisan ini tidak sebenarnya tidak sampai membahas apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan oleh ikhwan ataupun non ikhwan. Dan saya yakin betul semua hal yang terjadi tidak sama sekali semudah hal-hal yang saya analogikan diatas. Yang ingin saya sampaikan adalaah bahwa proses ikhwan-isasi bukanlah sebuah kejahatan yang harus dihindari atau dijatuhi hukuman karena dilakukan. Ini hanya tentang kedewasaan berpolitik, ini hanya tentang proses mempertahankan eksistensi sebuah gerakan karena mereka meyakini apa yang mereka perjuangkan, dan ini tentang kedewasaan hati anda memilih nilai yang baik atau mempertahankan citra yang baik. Tidak ada sedikitpun jaminan bahwa proses non-ikhwa-isasi tidak akan terjadi jika ikhwan tidak berkuasa. Saya yakin afiliasi akan terjadia karena itu merupakan sifat dasar manusia yang tidak mungkin hidup sendiri. Tidak mungkin ber-ideologi sendiri.

2 thoughts on “Ikhwan-isasi ? Spirit revolusi ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s