Suara kekhusuan?

Beberapa orang disekitar saya, memilih banyak membaca untuk menafsirkan sendiri pesan yang ada dalam bacaan. Beberapa lainnya, lebih senang menonton, mendengarkan,namun tidak membacanya.  Saya tau, dan mungkin memang benar. Ketika membaca sebuah naskah misalnya, orang akan dengan bebas menafsirkan sendiri setiap kata yang mereka baca. Seberapa keras intonasinya, seberapa cepat sang penulis membacanya, seberapa tinggi nadanya, juga bagaimana emosinya. Ya, banyak orang sangat menikmati itu hingga tidak sadar ia menghabiskan ribuan halaman perhari ketika membaca novel tebal misalnya. Dalam beberapa hal saya setuju sekali, tulisan memberikan kita imajinasi tak terbatas dan pilihan emosi untuk menafsirkan pesan dalam tulisan. Terkadang saya juga berpikir tentang apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan dalam tulisannya. Puisi misalnya, dalam setiap bait, orang-orang mungkin bisa menafsirkan emosi yang berbeda. Puisi dibuat dengan pilihan kata terbaik penulis, yang berarti mungkin ia akan berkali-kali menghapus kata yang tidak sesuai dan menggantinya dengan kata lain yang secara tepat dan emosional mewakili pesan yang ingin disampaikannya.

Entah kenapa saat ini, saya merasa mendengarnya. Entah saya yang berlebihan menafsirkannya atau memang tulisan saja tidak cukup bagi saya memahami apa yang saya pikirkan. Sepertinya, bagi saya mungkin beberapa hal memang tidak pernah puas saya artikan dan setiap saya berusaha memikirkannya kembali, penafsiranya menjadi berbeda dan saya rasa emosi saya tidak cukup kuat menerjemahkannya.

Dihapan saya sekarang, ada beberapa orang yang duduk mengangkat tanganya sambil menunggu sang imam menyelesaikan dzikir doanya. Beberapa lainnya duduk beristirahat sambil memainkan hp. Dan yang lainya berdzikir sendiri. Ada juga beberapa orang ditengah sedang menutup mata sambil berdoa dan mengerutkan alisnya. saya memperhatikan semuanya. Suara yang terdengar bercampur aduk. Suara Aamiin, suara kipas berputar, suara anak-anak kecil berlarian, suara angin, suara obrolan orang, bercampur menjadi suara sebuah keramaian. saya memilih menamakan nya menjadi suara kekhusuan. Saya berpikir, memjamkan mata, dan mendengar lebih diam. Ya ini suara kekhusuan saya kira. Campuran suara penuh emosi, dari orang-orang yang berdzikir mengangkat tanganya dari suara imam yang mungkin saja ia sendiri tidak tahu arti doa yang ia bacakan, dari orang-orang yang memkirkan masalahnya dan penuh harapan semoga tuhan memberikan kemudahan sambil mengerutkan alisnya, dari anak-anak kecil yang tidak pernah perduli apa yang dilakukannya, dari orang-orang yang sejenak melupakan pekerjaanya dan memerdekakan dirinya sambil menyadarkan tubuhnya pada dinding, lalau semua suaranya dibungkun oleh suara kipas yang berputar pelan serta angin dari pintu-pintu masjid yang terbuka. Disaat seperti itu, saya bisa mendengar jelas suara nafas yang saya hirup dan suara kekhusuan itu membuat saya membayangkan kematian. (cont..)

One thought on “Suara kekhusuan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s