Mendadak Melow

Mendadak Melow

Entah kapan, tapi saya pernah membaca sebuah artikel di yaho* yang isinya memuat sebuah penelitian tentang orang-orang yang melakukan aktivitas menyenangkan seperti menulis yang dapat menurunkan berat badannya dengan signifikan. Nah, berhubung sekarang berat badan saya sudah tidak begitu ideal seperti sediakala😀 maka sepertinya hasil penelitian itu bisa saya lakukan.

Siapa yang pernah mendadak mellow, melankolis , atau apapun istilahnya. Saya kira saya termasuk beberapa orang yang sering mendadak melankolis dalam beberapa situasi. Siang ini di kampus setelah beberapa lama menunggu adik kelas menyelesaikan surat-surat yang harus saya tandatangani saya bergegas pulang ke kos, tetapi hujan ternyata sudah mulai deras dan sepertinya tidak mungkin untuk menerobos hujan saat itu khawatir pakaian yang nantinya basah atau kepala yang dapat pusing karena kehujanan karena saat itu saya tidak membawa payung. Jadilah saya memutuskan untuk menunggu sejenak hingga cukup reda.

Beberapa orang juga terlihat menunggu hujan disekitar saya sambil duduk-duduk, beberapa lagi terlihat seperti melamun diam dengan tatapan kosong melihat hujan. Saya tidak begitu memperhatikan selanjutnya, tapi saat itu saya teringat dengan sebuah dialog dalam film yang malamnya saya saksikan di rct*. Di film itu ada kalimat yang intinya seperti ini setelah diterjemahkan, “apakah kau pernah mendengar suara dunia,” hmp, kalimat ini kemudian membuat saya diam sejenak, lalu mata saya tertuju pada hujan didepan saya. Entah bagaimana prosesnya tapi setelah itu pikiran saya seperti kehilangan banyak kerumitan aktivitas yang sebelumnya saya pikirkan, bukan bermaksud melebihkan tulisan pada bagian ini tapi hujan didepan yang saya lihat seperti terdengar fokus, suaranya keras bahkan terasa tidak ada suara lagi yang saya dengar selain suara jatuhan hujan yang tetes demi tetes airnya bisa saya dengar, suaranya terdengar jelas, juga dengan airnya. Perasaan seperti ini begitu cepat entah kapan mulainya lalu berakhir begitu saja.

Apa itu yang yang biasa disebut perasaan mellow, sama seperti saat beberapa orang yang sangat menghayati lirik lagu yang didengarnya hingga setelah itu dia bisa menulis puisi, atau sekedar update status tentang kegalauan hatinya mengingat orang yang pernah membuatnya sakit hati (bukan curhat :D). Dalam kejadian lain yang saya alami, saya pernah menyelesaikan 3 buah puisi secara langsung saat salah seorang yang cukup baik bagi saya pindah sekolah ketika sma dulu. Begitu emosional saya kira yang saya ingat, apa ini yang diebut mellow atau melankolis. Saya jadi berfikir apakah para puitisi handal yang membuat puisi-puisi yang banyak mendapat pujian banyak orang juga melakukan hal ini. Mereka menghayati setiap hujan yang turun, melihat dari sisi lain anak-anak sma yang pulang dan ceria di pinggir-pinggir jalan, memperhatikan betul suara angin malam yang sunyi lalu membuat puisi tentang itu semua. Yang jelas memang saat itu perasaan yang saya alami cukup berbeda, setiap kata yang ditulis tidak perduli bagaimanapun susunan kalimatnya seperti mewakili banyak emosi yang ditulis. Mungkin ini yang dicari banyak orang ketika mereka bersusah payah mendaki gunung hanya untuk sekadar diam memandangi pohon-pohon edelweis disana, atau kadang yang kita juga lakukan menantikan matahari terbenam sambil diam di pinggir pantai. Merasakan.

Apakah perasaan sejenis ini yang kadang membuat orang bisa lebih kreatif dari sebelumnya, atau buruknya beberapa orang yang melakukan hal-hal konyol setelahnya. Bukan itu intinya, bagi saya tidak penting untuk tahu betul apa namanya, jenis perasaan apa ini, bagimana seharusnya, saya lebih menyukai untuk sekedar merasakannya. Sekadar merasakan hal yang jarang kita rasakan sepertinya cukup menyenagkan. Tidak perlu membuat puisi setelahnya, atau calon lirik lagu, yang jelas ini menyenagkan. Saya rasa setiap orang juga pernah merasakannya, tapi saya tidak tahu berapa banyak yang menikmatinya. Menjadi mellow bukan kesalahan, menjadi mellow itu merasakan😀

6 thoughts on “Mendadak Melow

  1. kalimat penutupnya “menjadi mellow itu bukan kesalahan, menjadi mellow itu merasakan”, keren bgt. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s