”itulah Indonesia”, begitu liriknya.

Sepertinya tidak pernah tidak ada berita di semua stasiun tv di negeri ini yang tidak menampilkan masalah yang terjadi di Indonesia. Century masih mengambang  entah kemana, belum lagi Gayus yang kini popularitasnya mungkin melebihi ketua DPR di Indonesia. Jogja masih butuh bantuan, banjir bandang belum lagi reda di jombang, presiden terus menerus di kritik dan tersalahkan atas segala fenomena ketidakadilan di negeri ini.  Gejolak perpolitikan di kalangan elit semakin rumit, impeachment di cuatkan, tokoh agama ikut menyalahkan, dan keniakan gaji yang disampaikan presiden benar-benar di politisir. Parpol, elit,LSM, semakin gemar berbasa-basi. Tak bayak yang konsisten berani berpendapat beda dengan yang lain. Selalu saja pernyataan normatif  yang berakhir dengan kalimat “harapannya” dari mereka.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, tak banyak yang bisa di lakukan. Mungkin setiap kita bisa meniru pak JK yang tak banyak bicara namun ngotot dengan PMI nya, membantu dengan cepat. Itu yang selalu di bawa.  Atau teladan dari NASDEM yang tetap saja bersafari  membangun dinasti ditengah kekacauan negeri.

Mungkin banyak yang lupa, atau sengaja melupakan. Puluhan tki di arab Saudi masih mengemis, hidup mereka tak banyak yang peduli, mungkin tahu pun tidak. Entah berapa mahal harga tiket pesawat hingga disaat yang sama presiden lebih memilih memesan 250 tiket vvip pertandingan timnas dibanding mengobati salah satu tki yang terkena penyakakit lambung hingga mulutnya di tempeli lalat yang sempat diliput oleh salah satu stasiun tv. Lalu ada ungkapan “kalo setiap masalah presiden yang disalahkan bagaimana beliau bisa menangani masalah lain yang lebih besar”, itu kata mereka yang berlindung dibawah bendera biru pak SBY.  Lalu beliau meminta tambahan gaji, ditengah semuanya.

Keadaanya sedikt lebih baik tatkala media masih punya suara, banyak muncul kritik, ide, tak jarang juga sumpah serapah dari penelpon yang bingung dan kesal atas kejahatan para elit bermuka dua.

Pemerintahan mesti berlanjut, parpol  sebagai alat paling absah dalam demokrasi tidak serta merta secara keseluruhan  terlibat dalam lubang hitam kelam politik di Indonesia. Sejarah membuktikan tidak ada rezim yang tidak tumbang ketika masyarakat dan seluruh elemen bangsa secara masiv bergerak menuntut perubahan.  Lihat tokoh agama yang mulai gerah dengan kondisi ini, tuduhan serius tentang kebohongan rezim digelontorkan. Posko korban kebohongan pemerintah menjadi begitu propokatif, Golongan tengah muncul dilubang  koalisi sekgab yang mereka agung-agungkan pada awalnya. Megawati tetap fasih dengan kriikan khas oposisi dengan partainya. Dan gerakan koin untuk presiden di facebook menyempurnakan semuanya.

Beginilah kondisi bangsa saat ini, awal tahun 2011 yang tidak begitu baik. Kita semua menugggu perubahan. Perubahan apa dan bagaimana hingga detik ini tak banyak yang bisa bicara tentangnya. Ya..”itulah Indonesia”, begitu liriknya.

2 thoughts on “”itulah Indonesia”, begitu liriknya.

  1. masalah yang terjadi di negeri kita sebenarnya akar masalahnya adalah tidak diterapkanya hukum-hukum Alloh swt. tanpa syri’ah maka akan banyak pertentangan-pertentangan. syari’at tidak diterapkan karena kurangnya dukungan umat. sebenarnya jika umat mempunyai perasaan dan pemikiran yang satu maka banyak masalah dapat diselesaikan
    kunjungi blog saya;
    http://www.ngobrolislami.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s